Episode pilwakot 30 januari 2018

Pak adung dan pak tono; opang stasiun kereta Bogor

Seharian berkutat di jakarta rapat Peradi, malam harus balik Bogor comuter line yang padat adalah pilihan yang tak terhindarkan agar terukur waktu sampai bogor. Menggunakan moda taksi online, taksi atau kendaraan bus umum akan tidak terukur waktu sampai Bogor. Comuter line yang murah meriah padat adalah pilihan utama.

Wajah lelah, harus berdiri berdesakan terobati sesampainya di stasiun bogor . Saat saya memilih opang stasiun, satu suara menegor saya. ” pak sugeng ya calon walikota Bogor” . Saya menoleh berdiri disana tukang ojek pak Tono. Ia mengenali saya sebagai calon walikota. Wahh segala kelelahan terobati . Ada yg mengenal dan menyapa.

Pak Tono pernah mengantar saya kira2 bulan nov 2017 dari stasiun bogor malam hari menuju tempat rapat di kota bogor. Saat itu pak Tono saya ajak makan soto bogor dipasar bogor saat saya lapar. Rupanya peristiwa itu berbekas dibenaknya sehingga menyapa malam ini. Oww obat lelah dari Tuhan .Maka kumpulah para tukang ojek pangkalan selfie2.

Saya sudah memilih pak adung untuk mengantar ke posko jalan kresna raya 52 malam ini, maka sampailah saya di posko diantar pak adung ditengah hujan . Hujan berkah.

Saya pernah katakan dlm deklarasi pasangan Dadang Iskandar Danubratadan Sugeng Teguh Santoso bahwa pemimpin adalah orang yg merasakan lapar ketika warga lapar, kehujanan ketika warga kena hujan. Saya buktikan saya adalah sama dgn mereka warga yg berprofesi sbg tukang ojek. Kena panas, kena hujan, desak desakan naik kereta,kelelahan.

Sebagai calon wakil walikota , Saya memahami amanat penderitaan rakyat. Saya memahami kebutuhan warga kota Bogor. Kelelahan , kehujanan, kena angin malam yg sungguhan bukan pura2😁😁😁

Salam

Sugeng Teguh Santoso
#bogorbersama
#bogoruntukrakyat