Sugeng Teguh Santoso

Sugeng Teguh Santoso lahir di Semarang, Jawa Tengah, 13 April 1966. Ayahnya bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan di Semarang, yang aktif sebagai aktivis buruh di perusahaan itu. Sedang ibunya seorang guru.

Sugeng sempat berpisah dengan ayahnya ketika usianya masih belum lima tahun. Ayahnya “menghilang” dari Semarang ketika terjadi pergolakan politik tahun 1965. Sebagaimana ditulis dalam banyak buku sejarah, pergolakan politik ketika itu berlangsung kejam menyusul pembunuhan tujuh jenderal yang dituding dilakukan oleh aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI).

Rezim Soeharto yang belakangan disebut Rezim Orde Baru, menjadi perpanjangan tangan Pemerintahan Amerika Serikat di Indonesia khususnya, dan di Asia Tenggara pada umumnya, dengan medan tugas melenyapkan kekuatan PKI yang ketika itu besar di Indonesia, sekaligus membantu Amerika Serikat membasmi meluasnya gerakan komunisme di Asia Tenggara.

Tidak tanggung-tanggung banyaknya manusia Indonesia yang dibunuh selama pergolakan itu. Menurut seorang Indonesiais dari Amerika, jumlah warga Indonesia yang terbunuh ketika itu mencapai lebih satu setengah juta jiwa. Bagaimana itu bisa terjadi? Tidak lain karena, rezim Soeharto melakukan politik hantam kromo. Tidak ada daftar nama pasti yang saja yang menjadi target operasi. Yang penting, semua orang yang dinilai terkait dengan Partai Komunis Indonesia, atau semua anggota organisasi yang ada kaitan dengan Partai Komunis Indonesia, lepas dari bagaimana kualitas atau derajat keterkaitannya,  tanpa tedeng aling-aling menjadi target operasi.

Tidak heran kalau peristiwa itu, kini menjadi penyesalan sekaligus melahirkan kesedihan mendalam. Bagi beberapa keluarga korban ada yang berkembang menjadi luka politik, karena begitu banyak orang yang tidak tahu menahu  tetapi kemudian terbunuh dalam pergolakan tahun 1965 itu.

Itu pula yang membuat istilah serikat buruh yang di luar negeri berkembang menjadi partai buruh dan berkuasa di banyak sejumlah di Eropa seperti di Inggris dan Australia, di Indonesia diganti menjadi serikat pekerja seperti yang dikenal sampai sekarang. Masyarakat Indonesia trauma mengidentifikasi diri sebagai buruh atau serikat buruh karena takut dicap berhaluan politik komunis dan disingkirkan dari tata pergaulan sehari-hari.

Tentu saja Sugeng kecil belum mengerti mengapa ayahnya menghilang ketika itu. Beberapa tahun setelah pergolakan politik mereda, Sugeng baru bertemu lagi ayahnya, setelah ibunya memboyong keluarga hijrah ke Jakarta. Ayahnya yang dulu pegawai menengah di sebuah perusahaan, didapatinya sudah menjadi tukang beca di kawasan di Mangga Dua, Jakarta Pusat. Di kawasan yang dikenal keras itu pula Sugeng menjalani masa kecilnya. Walau terbiasa berantem, tetapi Sugeng mulus melalui pendidikan tingkat sekolah dasar di SDN Pademangan Timur 04 Jakarta, mulus melalui pendidikan setingkat SMP di SMPN XLII Jakarta, mulus melalui pendidikan tingkat SMA di SMAN 15 Jakarta, bahkan berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesiadan meraih gelar sarjana hukum.